Brand Olahraga dan Sponsorship: Strategi Cerdas di Balik Event Lokal hingga Internasional. (Foto: Ilustrasi)

Di era ketika perhatian publik semakin berharga, panggung olahraga kembali menjadi salah satu medium paling ampuh untuk merebut hati konsumen. Dari turnamen sepak bola hingga ajang bulu tangkis, berbagai brand baik lokal maupun global menjadikan sponsorship dan event olahraga sebagai sarana membangun citra, meningkatkan kepercayaan, dan menanamkan kesetiaan jangka panjang pada audiens mereka.

Sponsorship bukan sekadar logo di seragam pemain. Ini adalah strategi komunikasi emosional yang bekerja di tingkat paling mendasar dari perilaku manusia: rasa bangga, kompetisi, dan kebersamaan.

Investasi Besar, Dampak Nyata Event Olahraga

Brand Olahraga dan Sponsorship: Strategi Cerdas di Balik Event Lokal hingga Internasional. (Foto: Ilustrasi)

Menurut laporan Sportfive Asia (2025), nilai sponsorship di acara event olahraga di kawasan Asia Tenggara tumbuh lebih dari 15% dibanding tahun sebelumnya. Indonesia menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat, didorong oleh popularitas event seperti Liga 1, MotoGP Mandalika, dan Indonesia Open.

Brand kopi Kapal Api, misalnya, memanfaatkan momentum itu dengan menjadi sponsor utama Indonesia Open 2025. Penamaan resmi ajang menjadi “Kapal Api Indonesia Open” bukan hanya bentuk dukungan pada event olahraga, tetapi juga strategi memperkuat asosiasi merek dengan semangat nasionalisme dan kerja keras dua nilai yang identik dengan event olahraga dan budaya Indonesia.

Langkah serupa dilakukan Bank BTN, yang menggandeng Arema FC dalam kemitraan jangka panjang. Menurut data dari laman resmi klub, kerja sama ini bukan hanya berbentuk dana sponsor, melainkan juga penyediaan fasilitas keuangan digital untuk fanbase klub. Pendekatan berbasis komunitas seperti ini menunjukkan bagaimana sponsorship kini lebih dari sekadar transaksi bisnis, melainkan kolaborasi nilai antara brand dan komunitas olahraga.

Baca Juga: UMKM Semakin Terintegrasi ke Ekonomi Formal Lewat Pajak, QRIS, dan Sistem Ekspor

Dari Stadion ke Layar Digital

Riset yang diterbitkan Taylor & Francis Online (2024) menunjukkan bahwa sponsorship yang memiliki “brand event fit” tinggi yakni kesesuaian antara nilai merek dan karakter acara memiliki dampak signifikan terhadap niat beli konsumen. Hal ini menjelaskan mengapa brand non-olahraga seperti Livin’ by Mandiri ikut menjadi sponsor kompetisi Mobile Legends Professional League (MPL). Meskipun bukan produk olahraga, brand ini ingin mengaitkan dirinya dengan energi muda dan semangat kompetisi digital. Kedua hal tersebut sangat relevan dengan karakter dan gaya hidup target pasarnya.

Dalam konteks global, perusahaan seperti Visa, Adidas, dan Coca-Cola telah lama menjadikan olahraga sebagai bagian dari DNA merek mereka. Visa, misalnya, telah menjadi sponsor resmi Olimpiade dan FIFA World Cup selama lebih dari dua dekade. Menurut Financial Times (2025), sponsorship semacam ini memberi Visa peluang menjangkau audiens lintas benua sekaligus memperkuat citra merek sebagai simbol kepercayaan dan globalitas.

Aktivasi Lebih Bernilai daripada Logo

Namun, dalam era media digital, tantangan baru muncul: bagaimana memastikan sponsorship tidak berhenti di papan iklan stadion. “Sekarang, yang menentukan bukan seberapa besar logo brand Anda, tetapi seberapa dalam interaksi Anda dengan audiens,” tulis laporan ResearchGate (2024) mengenai efektivitas sponsorship olahraga modern.

Itulah mengapa banyak brand kini beralih ke strategi aktivasi sponsorship yang menghadirkan pengalaman langsung bagi audiens. Mereka tidak lagi hanya menampilkan logo, tetapi juga menghadirkan kuis interaktif, booth digital, dan konten behind the scenes di media sosial. Studi PMC Public Health (2025) menunjukkan bahwa aktivasi yang melibatkan interaksi langsung dapat meningkatkan persepsi positif terhadap brand hingga 35% dibanding sponsor pasif.

Selain itu, penggunaan analitik data kini menjadi elemen penting. Teknologi seperti ExposureEngine (2025) memungkinkan brand melacak seberapa sering logo mereka muncul di siaran televisi atau media daring. Hasilnya, keputusan investasi sponsorship bisa lebih terukur dan akurat dalam menghitung ROI (return on investment).

Tantangan Relevansi dan Reputasi

Meski potensinya besar, sponsorship di event olahraga juga mengandung risiko reputasi. Kinerja buruk tim yang disponsori atau kontroversi di lapangan bisa berimbas pada persepsi publik terhadap merek. Karena itu, banyak perusahaan kini menambahkan klausul reputasi dalam kontrak sponsorship, sebagaimana dijelaskan dalam laporan ScienceDirect Journal of Business Research (2025).

Selain itu, relevansi lokal menjadi faktor penting. Untuk brand global yang masuk ke Indonesia, memahami sensitivitas budaya dan karakter penonton adalah kunci. Sebaliknya, bagi brand lokal yang ingin menembus pasar global, event olahraga internasional bisa menjadi jalan untuk memperluas eksposur dan kredibilitas.

Baca Juga: Tren Ekspor Produk Digital Indonesia: SaaS, Game, hingga Jasa Desain

Kesimpulan

Sponsorship olahraga telah berevolusi dari sekadar alat promosi menjadi strategi komunikasi nilai. Setiap sorakan penonton di stadion atau klik di layar streaming dapat menjadi simbol keterhubungan emosional antara brand dan publiknya. Di tangan brand yang cermat, momen sederhana itu bisa berubah menjadi kekuatan besar dalam membangun loyalitas dan citra merek.

Dalam kompetisi bisnis yang semakin padat, ukuran logo di papan stadion bukan lagi tolok ukur utama keberhasilan. Yang terpenting adalah seberapa dalam sebuah brand mampu menanamkan makna di hati para penontonnya.

Related Posts