Funding Lokal, Impact Global: Tren Pendanaan Startup Indonesia 2025. (foto: ist)

Tahun 2025 menandai periode baru yang penuh tantangan sekaligus peluang bagi ekosistem startup di Indonesia. Meskipun menghadapi “tech winter” global, sejumlah startup lokal mulai menegaskan diri untuk meraih dampak regional dan global melalui pendanaan yang lebih selektif dan strategis.

Penurunan Secara Umum, Seleksi Alam Dimulai

Data menunjukkan bahwa investasi ke startup Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Periode Januari – November 2023 mencatat nilai investasi hanya US $479 juta, turun drastis dari US $1,43 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laporan Q1 2025 mencatat hanya 15 kesepakatan investasi di Indonesia dengan total nilai US $44,56 juta.

Hal ini menunjukkan bahwa startup tahap awal (seed hingga Series B) semakin sulit memperoleh modal, sementara investor cenderung memilih perusahaan yang telah lebih matang atau memiliki keunggulan teknologi diferensial.

Baca Juga: Distribusi Produk Lokal di Era Q-Commerce

Fokus pada Startup “Impact & Global”

Meski secara kuantitas menurun, pendanaan tidak sepenuhnya hilang justru mengalami pergeseran fokus. Salah satunya: sektor kecerdasan buatan (AI) menunjukkan tren kenaikan investasi yang kuat. Di Indonesia, hingga 2024 tercatat total investasi startup AI mencapai US $542,9 juta, tumbuh 141,5% dibanding periode sebelumnya.

Untuk tahun 2025, artikel mencatat bahwa startup non-AI semakin sulit mendapatkan modal ventura, sementara AI menjadi “magnet” investasi.

Dengan kata lain, pendanaan lebih diarahkan ke startup yang bukan sekadar lokal tetapi memiliki potensi global teknologi, solusi scale-up, dan dampak ke pasar regional/kedirinya internasional.

Peluang Ekosistem Lokal Mengglobal

Dalam konteks Indonesia, jumlah startup terus bertambah per pertengahan 2025, tercatat lebih dari 3.100 startup domestik.

Pemerintah dan institusi lokal pun merespons dengan memperkuat ekosistem: program akselerasi, insentif fiskal, serta dukungan pengembangan kapabilitas teknologi dari pusat hingga daerah.

Kombinasi ini membuka peluang bagi startup lokal untuk tidak hanya mendapat pendanaan. Mereka juga bisa memperluas jangkauan bisnis ke tingkat regional dan global. Kolaborasi lintas negara, lisensi teknologi, atau ekspansi ke Asia Tenggara menjadi jalur nyata untuk mencapainya.

Tantangan & Strategi ke Depan

Meski peluang terbuka, ada tiga tantangan utama:

  • Krisis modal tahap awal – dengan nilai investasi menyusut, startup harus fokus pada daya tahan bisnis dan efisiensi operasional.

  • Kompetisi global yang makin keras – investor global mengharapkan skala, diversity pasar, dan keunggulan teknologi yang nyata.

  • Regulasi dan infrastruktur – investor menilai faktor regulasi & ekosistem lokal sebagai bagian penting sebelum berkomitmen pendanaan besar.

Untuk menavigasi kondisi ini, startup Indonesia disarankan mengadopsi strategi berikut:

  1. Fokus pada produk atau layanan yang bisa “go regional”, bukan hanya lokal.

  2. Bangun kapabilitas teknologi — AI, data analytics, SaaS, dan model bisnis yang bisa diadaptasi lintas pasar.

  3. Cari mitra strategis (domestik maupun internasional) agar modal tidak hanya datang dalam bentuk uang, tetapi akses pasar, jaringan, dan know-how global.

Baca Juga: Kolaborasi Brand dan Influencer: Dari Gimmick ke Partnership Jangka Panjang

Kesimpulan

Tren pendanaan start-up di Indonesia 2025 menunjukkan bahwa kita telah memasuki fase baru: dari quantity ke quality & impact. Modal besar yang dulu mengalir tanpa terlalu selektif kini bergeser ke startup yang sanggup merebut pasar global atau setidaknya regional Asia Tenggara melalui teknologi unggulan dan model bisnis yang skalabel.

Dengan ekosistem yang semakin matang, dana lokal yang berpadu dengan akses global mampu menciptakan dampak yang lebih luas. Kombinasi ini membuka peluang bagi start-up Indonesia untuk bersaing dan bersinar di panggung internasional, bukan hanya di pasar domestik.

Related Posts