Creator-to-Consumer (C2C): Evolusi Baru Bisnis Setelah B2B, B2C, & C2C. (Foto: Ilustrasi)

Model bisnis digital terus berevolusi mengikuti perubahan perilaku konsumen. Jika sebelumnya kita mengenal B2B (Business-to-Business), B2C (Business-to-Consumer), hingga C2C (Consumer-to-Consumer), kini muncul serangkaian perubahan yang menghadirkan format terbaru: Creator-to-Consumer (C2C). Model ini didorong pertumbuhan ekonomi kreator global, lonjakan penggunaan media sosial, serta kepercayaan konsumen yang lebih tinggi terhadap rekomendasi kreator dibandingkan brand.

Fenomena C2C semakin populer di Indonesia seiring pertumbuhan social commerce. Menurut laporan Google, Temasek, dan Bain e-Conomy SEA 2024, Indonesia memimpin ekonomi digital Asia Tenggara dengan nilai GMV social commerce yang tumbuh signifikan setiap tahun. Tren ini diperkuat data dari We Are Social (2024) yang mencatat 92,1% pengguna internet lokal aktif mengikuti konten kreator di media sosial. Inilah pondasi utama model Creator-to-Consumer bekerja.

Dari B2B, B2C, C2C ke Era C2C

Creator-to-Consumer (C2C): Evolusi Baru Bisnis Setelah B2B, B2C, & C2C. (Foto: Ilustrasi)

Secara tradisional, transaksi digital terbagi menjadi tiga model besar:

1. B2B (Business to Business)

Perusahaan menjual layanan atau produk kepada perusahaan lain. Contohnya software ERP, logistik, atau grosir. Model ini tetap penting, khususnya di sektor industri dan teknologi.

2. B2C (Business to Consumer)

Brand menjual langsung ke konsumen, misalnya marketplace, e-commerce, hingga direct-to-consumer (D2C). Format ini menjadi tulang punggung industri retail daring.

3. C2C (Consumer to Consumer)

Transaksi antar individu, seperti yang terjadi di marketplace preloved atau forum jual beli.

Perkembangan media sosial menggeser cara konsumen menemukan produk. Riset dari Influencer Marketing Hub 2024 menunjukkan bahwa 61% generasi Z membeli produk karena rekomendasi kreator, bukan karena iklan brand. Inilah yang melahirkan model terbaru: Creator-to-Consumer (C2C).

Baca Juga: Kenapa Pemerintah Melarang Thrift Shop, dan Apa Dampaknya bagi Industri Lokal?

Apa Itu Creator-to-Consumer (C2C)?

Creator-to-Consumer adalah model bisnis dimana kreator menjadi pusat distribusi, pemasaran, sekaligus pengaruh utama dalam keputusan pembelian konsumen. Brand tidak lagi bersaing hanya lewat harga atau kualitas, tetapi lewat siapa yang membawa produk tersebut ke audiens.

Pada model ini, kreator memiliki fungsi ganda:

  • Sebagai trust builder (pembangun kepercayaan)

  • Sebagai discovery channel (tempat menemukan produk)

  • Sebagai sales driver (pemicu transaksi langsung)

Menurut laporan TikTok Marketing Science x Nielsen (2024), konten kreator mampu meningkatkan niat beli konsumen hingga 44%, bahkan lebih besar dari iklan berbayar tradisional.

Mengapa C2C Menjadi Evolusi Baru?

1. Kepercayaan Audiens Lebih Tinggi ke Kreator

Kreator dianggap lebih autentik. Studi dari McKinsey 2024 menunjukkan bahwa 70% konsumen lebih percaya review kreator dibandingkan iklan brand.

2. Social Commerce Meningkat Pesat

Indonesia merupakan pasar terbesar social commerce di Asia Tenggara. Dengan penetrasi TikTok Shop, Instagram Shop, Shopee Affiliate, dan platform kreator lainnya, transaksi berbasis konten meningkat lebih dari 25% YoY (Tempo.co, 2024).

3. Kreator Menjadi “Brand Baru”

Banyak kreator kini meluncurkan brand sendiri: fashion, F&B, kosmetik, hingga digital products. Ini mendorong ekosistem Creator Economy tumbuh menjadi industri bernilai miliaran dolar.

4. Konsumen Lebih Menyukai “Community-Led Buying”

Generasi muda membeli karena merasa terhubung, bukan sekadar kebutuhan. Mereka ingin menjadi bagian dari komunitas kreator favoritnya.

Contoh Penerapan C2C di Indonesia

  1. Affiliate Commerce
    Kreator mempromosikan produk dengan link khusus dan menghasilkan komisi.

  2. Live Shopping
    Kreator menjual produk secara langsung melalui live streaming di TikTok atau Instagram.

  3. Brand Creator
    Brand milik kreator seperti produk skincare artis, fashion influencer, hingga F&B.

  4. Kreator Sebagai Channel Distribusi Resmi
    Beberapa brand kini fokus menjual hanya melalui kreator untuk mendapatkan konversi lebih efisien.

Dampak C2C Terhadap Industri

Terhadap Brand

  • Perlu strategi kreator yang berkelanjutan

  • Budget marketing lebih ke arah creator performance

  • Fokus pada storytelling, bukan iklan template

Bagi Kreator

  • Monetisasi lebih luas, tidak hanya sponsored content

  • Menjadi micro-entrepreneur dengan brand sendiri

  • Meningkatkan nilai tawar di pasar digital

Buat Konsumen

  • Penemuan produk lebih mudah

  • Rekomendasi lebih personal

  • Proses pembelian lebih cepat dan interaktif

Baca Juga: Funding Lokal, Impact Global: Tren Pendanaan Startup Indonesia 2025

Kesimpulan

Creator-to-Consumer (C2C) bukan sekadar tren, melainkan evolusi natural setelah era B2B, B2C, dan C2C. Dengan meningkatnya kepercayaan terhadap kreator dan berkembangnya social commerce, model ini akan terus tumbuh sebagai pilar utama ekonomi digital Indonesia.

Brand yang berhasil beradaptasi akan memenangkan pasar. Kreator yang memahami audiens akan menjadi “distributor baru” di era digital. Dan konsumen akan terus menikmati pengalaman belanja yang lebih personal, interaktif, dan relevan.

Related Posts