Build, Buy, or Partner? Strategi Bertumbuh di 2026. (Foto: Ilustrasi)

Tahun 2026 akan jadi fase “winner-takes-more” untuk banyak industri: biaya akuisisi pelanggan naik, siklus produk makin cepat, dan AI memperpendek jarak antara ide dan eksekusi. Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan strategis yang paling sering muncul di ruang board bukan lagi “mau tumbuh berapa?”, melainkan “tumbuh lewat cara apa: build (bangun sendiri), buy (akuisisi), atau partner (kolaborasi)?”

Riset strategi sudah lama melihat tiga jalur ini sebagai pilihan fundamental mode pertumbuhan: pengembangan internal, merger & acquisition (M&A), dan kemitraan/aliansi. Pilihan terbaik biasanya ditentukan oleh kombinasi: urgensi waktu, kontrol yang dibutuhkan, ketersediaan kapabilitas, serta risiko integrasi.

BUILD: Bangun Sendiri Saat Diferensiasi Adalah Nyawa

Build, Buy, or Partner? Strategi Bertumbuh di 2026. (Foto: Ilustrasi)

Build cocok ketika kapabilitas yang ingin kamu miliki adalah sumber keunggulan jangka panjang—misalnya data, model AI, workflow operasional, atau experience pelanggan yang unik. Banyak organisasi kini juga mendorong “venture building” untuk melahirkan lini bisnis baru dari dalam, karena mereka ingin kontrol penuh atas product-market fit dan budaya eksekusi.

Kapan build jadi pilihan paling masuk akal:

  • Inovasi berada di core bisnis (kalau gagal, bisnis utama ikut terdampak).

  • Kamu butuh kontrol penuh atas roadmap, data, dan compliance.

  • Pasar berubah cepat, sehingga membangun “engine” inovasi internal lebih sustainable daripada bergantung pada pihak lain.

Risiko utamanya waktu lebih lama, learning curve, dan “internal buy-in” yang sering jadi penghambat. Eksekusi growth strategy bisa gagal bukan karena idenya buruk, tetapi karena organisasi tidak kompak menjalankan perubahan.

Baca Juga: Ordonesia Mewakili Entrepreneur Indonesia dalam Pertemuan dengan Dubes RI di Amerika Serikat

BUY: Akuisisi Saat Kecepatan dan Skala Lebih Penting dari Kesempurnaan

Buy (M&A) biasanya dipilih ketika kamu perlu mempercepat masuk pasar, mengunci supply/kapabilitas langka, atau melakukan konsolidasi. Di Indonesia, sinyal aktivitas M&A juga terlihat dari dinamika startup dan korporasi yang mencari efisiensi dan sinergi di tengah ketatnya pendanaan.

Namun, “deal” bukan garis finis itu baru start. Banyak laporan praktisi menekankan pentingnya strategi integrasi agar nilai sinergi benar-benar tercapai (operasi, sistem, people, hingga governance).

Kapan buy jadi pilihan paling masuk akal:

  • Kamu butuh speed to market (menghemat 12–24 bulan build).

  • Ada target yang punya basis pelanggan, distribusi, atau teknologi yang sudah terbukti.

  • Kamu ingin menutup gap kapabilitas yang sulit direkrut cepat (talent, IP, lisensi, jaringan).

Risiko utamanya integrasi budaya, tumpang tindih produk, dan sinergi yang “bagus di Excel” tapi bocor di lapangan.

PARTNER: Kolaborasi Saat Akses Ekosistem Lebih Bernilai daripada Kepemilikan

Partner (aliansi, JV, channel partnership) kuat ketika kamu butuh akses ke pasar baru, komunitas, teknologi pelengkap, atau regulasi/izin tanpa harus membeli atau membangun semua dari nol. Secara teori, pilihan “ally vs acquire” sering dibahas sebagai trade-off kontrol vs fleksibilitas dan risiko.

Kapan partner jadi pilihan paling masuk akal:

  • Kamu ingin menguji pasar baru dengan biaya rendah (opsi yang reversible).

  • Value chain menuntut kolaborasi (contoh: logistik–payment–commerce–creator).

  • Kamu butuh time-to-learn cepat sebelum memutuskan build/buy.

Risiko utamanya insentif tidak selaras, data sharing terbatas, dan ketergantungan pada performa partner.

Framework cepat: Cara memilih dalam 5 pertanyaan

Gunakan checklist ini sebelum rapat keputusan:

  1. Apakah kapabilitas ini core differentiation? → cenderung build.

  2. Seberapa mendesak “go-live”? (≤6 bulan) → pertimbangkan buy/partner.

  3. Apakah kita butuh kontrol data & compliance tinggi? → build/buy lebih aman.

  4. Seberapa besar risiko integrasi? (people, sistem, produk) → jika tinggi, partner dulu.

  5. Apakah ada target/partner yang sudah punya traction nyata? → buy/partner makin menarik.

Baca Juga: State of Commerce Indonesia 2026: Perilaku Belanja Baru Gen Z & Millennial

Kesimpulan: 2026 Menuntut Strategi Hibrida

Di 2026, jawaban terbaik sering bukan salah satu melainkan kombinasi berurutan mulai partner untuk validasi cepat, lanjut build untuk diferensiasi inti, lalu buy untuk mempercepat skala saat modelnya sudah terbukti. Dengan cara ini, kamu memaksimalkan kecepatan tanpa mengorbankan kontrol jangka panjang.

Kalau kamu mau, aku bisa bikinin versi yang lebih tajam untuk niche bisnismu (mis. e-commerce/logistik/creator economy) decision matrix & contoh KPI agar bisa langsung dipakai di deck BOD.

Related Posts