Kenapa Banyak Bisnis Online Gagal Scale Up di Tahun Ketiga? (Foto: Ilustrasi)

Tahun ketiga sering disebut sebagai fase kritis dalam perjalanan bisnis online. Jika tahun pertama adalah fase validasi ide dan tahun kedua adalah masa pertumbuhan agresif, maka tahun ketiga menjadi titik pembuktian: apakah bisnis tersebut benar-benar siap scale up atau justru mulai runtuh perlahan.

Fakta di lapangan menunjukkan, tidak sedikit bisnis online yang justru gagal berkembang bahkan berhenti beroperasi saat memasuki tahun ketiga. Fenomena ini bukan sekadar soal kalah bersaing, melainkan akumulasi kesalahan strategis yang sejak awal tidak disadari.

Model Bisnis Tidak Siap Diskalakan

Banyak bisnis online tumbuh cepat di awal karena promosi agresif dan momentum pasar. Namun, pertumbuhan ini sering tidak dibarengi dengan model bisnis yang sehat. Margin tipis, biaya akuisisi pelanggan (CAC) yang tinggi, serta ketergantungan pada diskon menjadi bom waktu.

Menurut laporan McKinsey, bisnis digital yang gagal scale umumnya tidak memiliki struktur biaya yang efisien sejak awal. Saat volume meningkat, biaya operasional justru melonjak lebih cepat dibanding pendapatan. Akibatnya, pertumbuhan tidak berbanding lurus dengan profitabilitas.

Baca Juga: Apa Itu Value Brand? Tren Konsumen yang Lebih Peduli Makna daripada Harga

Ketergantungan Berlebihan pada Iklan Berbayar

Di dua tahun pertama, iklan digital sering menjadi mesin utama pertumbuhan. Namun di tahun ketiga, banyak bisnis online terjebak dalam paid traffic trap. Kenaikan biaya iklan, perubahan algoritma platform, hingga persaingan yang makin padat membuat performa iklan menurun drastis.

Riset dari Harvard Business Review menyebutkan bahwa bisnis yang tidak mengembangkan kanal organik seperti SEO, loyalitas pelanggan, dan repeat order akan mengalami stagnasi ketika efisiensi iklan menurun.

Operasional Tidak Siap Mengikuti Skala

Scale up bukan hanya soal penjualan, tetapi juga kesiapan sistem. Banyak bisnis online gagal karena operasionalnya tidak dirancang untuk pertumbuhan besar. Masalah seperti keterlambatan pengiriman, customer service kewalahan, hingga kesalahan stok sering muncul di fase ini.

Media nasional seperti Kompas dalam beberapa liputan UMKM digital menyoroti bahwa kegagalan operasional menjadi penyebab utama runtuhnya kepercayaan pelanggan, meskipun produk dan marketing sudah kuat.

Founder Terjebak di Zona “Serba Bisa”

Di tahun ketiga, kompleksitas bisnis meningkat. Sayangnya, banyak founder masih terjebak dalam pola kerja mikro: mengurus semua hal sendiri. Tanpa tim yang solid dan sistem delegasi yang jelas, pengambilan keputusan menjadi lambat dan tidak strategis.

Jurnal Journal of Business Venturing (2023) menekankan bahwa kegagalan transisi dari founder-driven business ke system-driven business adalah salah satu penyebab utama kegagalan scale up pada bisnis digital.

Tidak Menggunakan Data sebagai Dasar Keputusan

Banyak bisnis online sebenarnya sudah memiliki data dari penjualan, iklan, hingga perilaku pelanggan. Namun data tersebut hanya berhenti di laporan, tidak digunakan sebagai dasar strategi.

Tanpa analisis yang tepat, bisnis sulit mengetahui produk mana yang paling profitable, kanal mana yang paling efisien, dan pelanggan mana yang layak diprioritaskan. Akibatnya, strategi scale up dilakukan berdasarkan asumsi, bukan insight.

Baca Juga: Mengapa Kolaborasi Antar-Brand Jadi Strategi Bertahan di 2026

Tahun Ketiga, Titik Balik Bisnis Online Bertahan atau Tumbang

Gagal scale up di tahun ketiga bukan berarti bisnis tersebut tidak berhasil. Justru, fase ini menguji kedewasaan strategi, sistem, dan kepemimpinan. Bisnis online yang mampu bertahan adalah mereka yang berani berhenti mengejar pertumbuhan semu dan mulai fokus pada fondasi jangka panjang: model bisnis sehat, sistem operasional kuat, dan keputusan berbasis data.

Related Posts