Digitalisasi UMKM kerap dipromosikan sebagai jalan pintas menuju pertumbuhan bisnis. Masuk marketplace, aktif di media sosial, lalu penjualan meningkat. Narasi ini terdengar sederhana, optimis, dan menjanjikan. Tidak heran jika UMKM Go Digital sering dianggap sebagai solusi utama untuk bertahan di era persaingan modern.
Namun, realitas di lapangan tidak selalu seindah narasi tersebut. Banyak pelaku UMKM sudah “go digital” secara teknis, tetapi belum siap secara sistem dan operasional. Akibatnya, alih-alih memperkuat bisnis, transformasi digital justru memunculkan masalah baru yang jarang dibahas secara terbuka di media.
Artikel ini membahas sisi lain dari UMKM Go Digital. Fokusnya bukan pada kisah sukses yang sering ditampilkan, melainkan tantangan nyata yang dihadapi pelaku usaha kecil ketika memasuki ekosistem digital.
UMKM Go Digital Bukan Sekadar Masuk Marketplace
Bagi banyak pelaku usaha, UMKM Go Digital masih dimaknai secara sempit. Digitalisasi dianggap selesai ketika produk sudah tampil di marketplace atau akun media sosial aktif. Padahal, platform digital hanyalah alat. Tantangan sesungguhnya justru berada di balik layar. Pengelolaan stok, pencatatan pesanan, kecepatan pemrosesan, hingga konsistensi layanan pelanggan menjadi ujian utama. Ketika penjualan meningkat, banyak UMKM justru kewalahan karena proses internal belum siap mengimbangi pertumbuhan tersebut.
Studi McKinsey (2022) menunjukkan bahwa adopsi teknologi tanpa perubahan proses internal memiliki risiko kegagalan yang tinggi. Teknologi tidak otomatis meningkatkan produktivitas jika tidak disertai penyesuaian sistem kerja dan alur operasional. Inilah alasan mengapa sebagian UMKM mengalami penurunan kualitas layanan setelah berhasil meningkatkan visibilitas digitalnya.
Baca Juga: Ketika Investasi Dibuat Semudah Transfer: Strategi myBCA Membuka Pasar Baru
Tantangan SDM dan Literasi Digital UMKM
Sumber daya manusia menjadi salah satu hambatan terbesar dalam proses digitalisasi UMKM. Sebagian besar UMKM dijalankan secara mandiri atau dengan tim yang sangat terbatas. Satu orang sering merangkap sebagai pemilik, admin toko online, pengelola media sosial, hingga bagian keuangan. Kondisi ini membuat transformasi digital menjadi tidak berkelanjutan. Pengelolaan konten, iklan digital, analisis performa penjualan, dan layanan pelanggan membutuhkan keterampilan yang berbeda. Tanpa pembagian peran yang jelas, beban kerja digital justru menguras energi pelaku usaha.
Data Kementerian Koperasi dan UKM (2023) menunjukkan bahwa literasi digital masih menjadi tantangan utama bagi UMKM di Indonesia. Banyak pelaku usaha belum memahami pemanfaatan data, iklan digital berbasis performa, maupun sistem otomatisasi sederhana. Laporan World Bank (2021) juga menyoroti kesenjangan keterampilan digital pada usaha kecil di negara berkembang, termasuk Indonesia. Tanpa pendampingan yang tepat, adopsi teknologi cenderung berhenti di tahap awal.
Masalah Data, Biaya, dan Keberlanjutan Digitalisasi
Aspek lain yang jarang dibahas media adalah sisi biaya dari UMKM Go Digital. Transformasi digital bukan proses sekali jalan, melainkan investasi berkelanjutan. Biaya iklan digital, komisi marketplace, langganan software, hingga ongkos logistik secara perlahan menggerus margin keuntungan.
Tanpa perhitungan yang matang, peningkatan omzet tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan profit. Banyak UMKM terjebak pada angka penjualan yang terlihat besar, tetapi arus kas justru semakin ketat. Selain itu, masih banyak UMKM yang belum terbiasa mengelola data bisnis. Data penjualan, perilaku pelanggan, dan performa produk sebenarnya tersedia di berbagai platform digital. Namun, data tersebut sering tidak dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan strategis.
Riset OECD (2021) menyebutkan bahwa UMKM yang gagal memanfaatkan data cenderung sulit bertahan dalam persaingan digital jangka panjang. Digitalisasi tanpa strategi yang jelas hanya akan menambah kompleksitas bisnis, bukan memperkuat pondasinya.
Baca Juga: Kenapa Banyak Bisnis Online Gagal Scale Up di Tahun Ketiga?
Kesimpulan
UMKM Go Digital bukanlah proses instan. Di balik narasi sukses yang sering ditampilkan media, terdapat tantangan struktural, operasional, dan sumber daya manusia yang nyata. Digitalisasi membutuhkan kesiapan sistem, peningkatan literasi digital, serta strategi yang berkelanjutan.
Marketplace dan media sosial hanyalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Dengan pemahaman yang lebih realistis, UMKM dapat memanfaatkan teknologi secara lebih tepat guna. Bukan sekadar mengikuti tren, tetapi membangun bisnis yang sehat, adaptif, dan berkelanjutan di era digital.
