Kenapa Trend Lebaran 2026 Ini Bisa Pengaruhi Pejualan Fashion Online? (Foto: Ilustrasi)

Lebaran selalu jadi “musim puncak” buat industri fashion di Indonesia. Bedanya, menjelang Lebaran 2026, pola belanjanya makin bergeser: konsumen bukan cuma mencari baju baru, tapi juga mengejar pengalaman belanja yang cepat, personal, dan terasa relevan dengan gaya hidup digital mereka. Kombinasi antara budaya (tradisi baju Lebaran), momentum ekonomi (THR), dan perilaku belanja berbasis konten (video & LIVE) membuat penjualan fashion online berpotensi naik kalau brand paham pemicunya.

Di bawah ini faktor-faktor tren yang paling masuk akal memengaruhi penjualan fashion online selama periode Ramadan–Lebaran 2026, berdasarkan pola yang terlihat kuat di tahun-tahun terakhir.

“Baju Lebaran” Tetap Prioritas, tapi Jalurnya Makin Online

Kenapa Trend Lebaran 2026 Ini Bisa Pengaruhi Pejualan Fashion Online? (Foto: Ilustrasi)

Survei dan rangkuman riset konsumen menunjukkan kategori fashion masih jadi salah satu belanja utama saat Ramadan–Idulfitri, dan pembelian online terus meningkat. Artinya, demand baju Lebaran tidak hilang yang berubah adalah kanal dan cara orang memutuskan membeli.

Implikasinya kompetisi bukan hanya soal desain, tapi juga siapa yang paling cepat “muncul” di momen niat beli (search intent), rekomendasi konten, dan promo yang mudah dipahami.

Baca Juga: Prediksi Tren Digital Commerce Indonesia 2026

Social Commerce & LIVE Shopping Makin Mengunci Keputusan Beli

Ramadan belakangan ditandai oleh belanja berbasis konten—terutama video pendek dan LIVE yang membuat fashion gampang “meledak” karena formatnya demonstratif sehingga terlihat real, bisa mix & match, ada interaksi, dan ada urgensi promo. Laporan seputar ekosistem TikTok Shop–Tokopedia menyoroti kenaikan penjual menjelang Ramadan dan contoh brand fashion yang bisa melipatgandakan penjualan lewat LIVE.

Untuk Lebaran 2026, tren ini biasanya semakin matang dengan kreator, afiliasi, LIVE & voucher menciptakan “mesin akuisisi” yang mendorong conversion rate lebih tinggi dibanding display iklan statis.

Periode Belanja Cenderung Maju: Orang Menghindari Telat & Takut Kehabisan

Menjelang Lebaran, konsumen kerap mengalami tekanan waktu: pengiriman harus sampai sebelum mudik/silaturahmi, ukuran cepat habis, dan promo punya batas. Pola “urgensi” dan “kenyamanan belanja online” terbukti relevan memengaruhi keputusan pembelian fashion, termasuk pada platform social commerce.

Artinya, di 2026 Anda bisa melihat:

  • Puncak belanja lebih cepat (lebih awal dari H-7/H-10),

  • Lonjakan transaksi saat jam-jam spesifik (misalnya waktu sahur/prime time konten),

  • Demand tinggi untuk layanan kirim cepat dan informasi estimasi tiba yang jelas.

Modest Fashion Berevolusi: Bukan Hanya “Baju Muslim”, tapi Identitas & Gaya

Konsumsi fashion muslim di era digital khususnya Gen Z banyak dipengaruhi ekspresi identitas, referensi konten, dan tren gaya yang cepat berubah. Ini membuat produk Lebaran tak cukup hanya “syar’i atau tidak”, tapi juga harus fotogenik, mudah distyling, dan cocok untuk konten.

Di sisi lain, pencarian terkait Ramadan terus meningkat, terutama pada topik “persiapan praktis” menjelang hari raya. Pola ini biasanya beririsan langsung dengan kebutuhan outfit, inspirasi gaya, hingga rekomendasi produk fashion.

Preferensi ke Produk Lokal & Value-For-Money Makin Kuat

Sejumlah laporan e-commerce mencatat adanya pergeseran minat konsumen ke produk lokal, seiring meningkatnya optimisme pasar selama Ramadan. Kondisi ini berpotensi menguntungkan brand fashion lokal yang memiliki storytelling kuat dan kualitas produk yang konsisten.

Buat 2026, ini biasanya muncul dalam dua “kutub”:

  • Produk lokal mid-range yang menang di desain + kualitas,

  • Produk value (bundling keluarga, couple set, gamis/kurta ekonomis) yang menang di harga & promo.

Baca Juga: Build, Buy, or Partner? Strategi Bertumbuh di 2026

Jadi, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Brand Fashion Online?

Agar tren Lebaran 2026 benar-benar menaikkan penjualan, fokus ke 5 hal ini:

  1. Siapkan kalender kampanye lebih awal (teaser → drop koleksi → puncak promo → last-minute).

  2. Optimalkan social commerce: LIVE rutin, afiliator, dan konten mix & match.

  3. Perjelas logistik & estimasi tiba untuk mengurangi “takut telat sampai”.

  4. Bangun diferensiasi modest fashion: potongan, bahan, size range, dan visual yang kuat.

  5. Kombinasikan promo cerdas (voucher, bundling, free ongkir bertingkat) dengan stok yang aman.

Lebaran 2026 bukan sekadar momen “baju baru”; ini momen di mana budaya bertemu algoritma. Brand yang bisa hadir di titik niat beli (search + konten + promo + pengiriman) paling berpeluang merasakan lonjakan penjualan.

Related Posts