Digital commerce Indonesia masuk fase “dewasa” bukan lagi sekadar kejar GMV, tapi adu efisiensi, pengalaman belanja, dan kepatuhan regulasi. Laporan e-Conomy SEA 2024 menegaskan ekonomi digital Indonesia mencapai GMV sekitar US$90 miliar pada 2024, dengan e-commerce tetap kontributor terbesar.
Di 2026, tren utamanya akan didorong oleh tiga hal yaitu format belanja yang makin imersif, AI yang makin membumi, dan aturan main yang makin ketat. Berikut prediksi tren paling relevan untuk pemain brand, seller, platform, sampai enabler.
Tren Digital Commerce Indonesia 2026: Dari Live Shopping hingga AI-Driven Commerce

Tren Digital Commerce di Indonesia terus bergerak menuju fase yang lebih matang, ditandai dengan pergeseran dari sekadar mengejar volume transaksi ke optimalisasi pengalaman belanja dan efisiensi operasional. Memasuki 2026, brand dan platform tidak lagi bisa mengandalkan promosi masif semata, melainkan harus memahami perubahan perilaku konsumen yang semakin visual, instan, dan berbasis kepercayaan.
Integrasi live dan video commerce, pemanfaatan kecerdasan buatan untuk personalisasi, serta conversational commerce melalui DM menjadi fondasi utama dalam membentuk Tren Digital Commerce yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Build, Buy, or Partner? Strategi Bertumbuh di 2026
Video & Live Commerce Jadi “Etalase Utama”
Kalau dulu live shopping dianggap gimmick, kini ia jadi jalur distribusi yang serius. e-Conomy SEA 2024 mencatat video commerce menyumbang sekitar 20% GMV e-commerce di Asia Tenggara (naik tajam dari <5% pada 2022). Artinya, pada 2026, konten bukan cuma “top of funnel”, tapi bagian dari checkout flow dari demo produk, bundling, voucher, sampai upsell terjadi di layar yang sama.
Implikasi untuk brand yaitu tim konten perlu berpikir seperti tim conversion. Live host, content ops, dan merchandising (harga, bundling, stok) akan jadi satu meja kerja.
GenAI Masuk ke Operasional: Copy, Kreatif, sampai CS
AI generatif akan makin terasa sebagai “mesin produktivitas”, bukan sekadar tools desain. Laporan Digital 2026 dari We Are Social menyoroti skala adopsi AI yang makin luas dalam perilaku digital global. Di konteks commerce, pola yang menguat di 2026:
-
Produksi variasi konten (headline, thumbnail, script live) untuk A/B testing cepat,
-
Personalisasi katalog dan rekomendasi,
-
Otomatisasi customer support (chat) dan post-purchase (status, retur, komplain).
Catatan penting: audiens makin sensitif terhadap konten yang terasa “AI banget”. Jadi pemenangnya bukan yang paling banyak otomatisasi, tapi yang paling tepat menggabungkan AI & human taste.
DM Commerce & Conversational Checkout Makin Normal
Perilaku belanja makin bergeser ke jalur percakapan: tanya stok, minta rekomendasi, nego bundling, lalu bayar. Platform akan mendorong click-to-message, dan brand yang siap dengan SOP chat, template penawaran, catalog in chat, serta integrasi pembayaran akan unggul (lebih cepat closing, lebih rendah refund).
Paylater Tetap Tumbuh, Tapi Pengawasan Naik
Paylater menjadi “pelumas” transaksi, terutama untuk pembelian impulsif saat live. Namun risikonya ikut membesar. OJK mencatat pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan mencapai Rp6,82 triliun per Desember 2024 (tumbuh 37,6% YoY).
Tren 2026 yaitu brand dan platform akan makin selektif dengan promo paylater, sementara edukasi dan risk control (limit, verifikasi, antifraud) makin ketat.
Konsolidasi & Persaingan Fee/Service Makin Keras
Persaingan e-commerce Indonesia makin intens, termasuk pergeseran model bisnis pemain besar. Contoh ekstrem seperti Bukalapak menghentikan penjualan barang fisik dan fokus ke produk virtual sinyal bahwa margin dan diferensiasi makin menentukan. Di 2026, kita akan melihat:
-
Perang layanan (SLA pengiriman, retur, customer protection),
-
Optimasi take rate/biaya layanan,
-
Akselerasi ecosystem play (payment, logistik, ads, creator network).
Regulasi: Data Privacy & Pajak Marketplace Jadi Variabel Utama
Dari sisi aturan, dua area paling berdampak:
a) Data pribadi: Pemerintah menegaskan UU PDP resmi berlaku mulai 17 Oktober 2024, mendorong bisnis lebih disiplin soal consent, keamanan, dan tata kelola data. Pada 2026, “trust” jadi aset: brand yang rapi data-nya biasanya lebih kuat di retensi.
b) Pajak: Reuters melaporkan rencana kebijakan yang meminta platform marketplace memungut/menyetor pungutan 0,5% dari penjualan seller tertentu (masih dalam pengembangan pada 2025). Jika skema seperti ini berjalan, 2026 akan jadi tahun adaptasi proses dari pelaporan, integrasi data, dan edukasi seller.
Pembayaran Makin Terintegrasi: QR, Open API, dan Ekosistem
Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025 dari Bank Indonesia menekankan arah kebijakan seperti open banking/open API dan penguatan pembayaran ritel. Di 2026, kompetisi bukan cuma “metode bayar apa”, tapi “seberapa mulus flow bayar” terutama untuk social/video commerce.
Baca Juga: Ordonesia Mewakili Entrepreneur Indonesia dalam Pertemuan dengan Dubes RI di Amerika Serikat
Kesimpulan
Digital commerce Indonesia 2026 akan dimenangkan oleh pemain yang menguasai format (video/live & DM), mesin produktivitas (GenAI), dan compliance (data & pajak) secara bersamaan.
Bukan lagi era “yang penting ramai”, tapi era yang paling rapi eksekusinya dari konten sampai ke laporan.
