Indonesia memasuki era baru dalam lanskap perdagangan digital. Pada tahun 2026, e-commerce diproyeksikan menjadi motor utama ekonomi digital nasional dengan nilai transaksi yang terus meningkat, didorong oleh perilaku konsumen Gen Z dan Millennial yang semakin tech-savvy, mobile-first, serta berorientasi pengalaman.
Dominasi Gen Z & Millennial di Lanskap E-Commerce

Gen Z (lahir setelah 1997) dan Millennial (lahir 1981–1996) kini menjadi kontributor utama transaksi e-commerce di Indonesia. Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan smartphone, kedua kelompok ini lebih memilih berbelanja online karena kemudahan akses, variasi produk, dan sistem transaksi digital yang semakin aman dan cepat.
Riset menunjukkan Gen Z tidak hanya melihat transaksi sebagai kebutuhan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas sosial dan gaya hidup. Keputusan membeli dipengaruhi oleh ulasan pengguna lain, rekomendasi influencer, serta tren yang viral di media sosial.
Baca Juga: Dark Patterns atau Brilliant Marketing? Mengupas Gaya Penjualan ‘Blind Box’ Pop Mart yang Meledak
Perilaku Belanja yang Beragam dan Bermakna
Tren perilaku Gen Z dan Millennial juga menunjukkan perbedaan preferensi. Meski kedua generasi ini menyukai promo, diskon, dan flash sale, Gen Z cenderung lebih impulsif dalam keputusan pembelian, terutama ketika dipicu oleh konten live shopping atau video commerce di aplikasi seperti TikTok dan Instagram.
Sementara itu, Millennial cenderung melakukan riset lebih mendalam sebelum membeli, mempertimbangkan pengalaman pengguna lain, review, dan value for money. Kedua generasi ini sama-sama mengutamakan kecepatan, kenyamanan, dan personalisasi pengalaman belanja.
Fakta menunjukkan bahwa sekitar dua dari tiga responden Gen Z dan Millennial berbelanja online setidaknya 2–3 kali setiap bulan. Kategori yang paling diminati meliputi fashion, perawatan tubuh, dan gadget.
Social Commerce Indonesia
Selain marketplace tradisional seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Bukalapak, fenomena social commerce semakin dominan. Fitur belanja langsung di media sosial memadukan hiburan dengan transaksi, yang sangat diminati oleh konsumen muda. Proyeksi menunjukkan social commerce akan memberikan kontribusi signifikan terhadap total transaksi e-commerce Indonesia pada 2026.
Riset akademik pun menegaskan bahwa penggunaan social commerce oleh Gen Z dipengaruhi oleh kualitas informasi produk, norma sosial yang berlaku di komunitas online, serta ekspektasi hasil yang bersifat hedonic dan utilitarian sekaligus.
Faktor Pendorong Utama Perubahan Perilaku
Beberapa faktor utama yang mendorong perubahan perilaku belanja generasi muda di Indonesia antara lain:
-
Kemudahan akses melalui smartphone dan e-wallet serta opsi paylater yang praktis.
-
Review pengguna dan rating produk yang menjadi acuan penting sebelum membeli.
-
Pengaruh influencer dan algoritma platform yang menampilkan rekomendasi personal.
- Event besar belanja online seperti 9.9, 10.10, hingga 11.11 yang mendorong lonjakan transaksi impulsif.
Tantangan untuk Pelaku Usaha
Pertumbuhan pesat e-commerce membawa tantangan baru bagi pelaku usaha, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Kondisi ini menuntut penerapan strategi digital marketing yang lebih cermat, berbasis data, dan relevan dengan perilaku konsumen. Di sisi lain, konsumen juga semakin menuntut pengalaman belanja yang mulus, cepat, dan personal di setiap kanal digital.
Selain itu, pelaku usaha perlu memahami preferensi platform dan format konten yang paling resonan dengan Gen Z dan Millennial. Misalnya, video commerce dan live shopping menjadi medium penting untuk menarik perhatian serta mengonversi interaksi menjadi transaksi.
Proyeksi E-Commerce Indonesia 2026
Pada tahun 2026, Indonesia diperkirakan akan terus memperkuat posisinya sebagai pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai transaksi yang terus meningkat dan kontribusi signifikan dari social commerce serta mobile commerce.
Dengan populasi digital yang besar dan kebiasaan berbelanja online yang semakin mengakar, Gen Z dan Millennial diprediksi akan terus menjadi katalisator perubahan industri retail baik dalam hal inovasi produk, strategi pemasaran, maupun pengalaman konsumen.
Baca Juga: Creator-to-Consumer (C2C): Evolusi Baru Bisnis Setelah B2B, B2C, & C2C
Kesimpulan
State of Commerce Indonesia 2026 menunjukkan bahwa perilaku belanja Gen Z dan Millennial bukan sekadar tren sementara, tetapi telah menjadi landasan utama pertumbuhan e-commerce nasional. Pelaku usaha perlu memahami karakteristik, preferensi, dan motivasi kedua generasi ini untuk dapat memenangkan persaingan di pasar digital yang semakin kompleks dan dinamis.
